Kamis, 26 Januari 2012

Kecerdasan Emosional (EQ)


Kecerdasan Emosional (EQ)
Kecerdasan emosional digambarkan sebagai kemampuan untuk memahami suatu kondisi perasaan seseorang, baik terhadap diri sendiri ataupun orang lain. Kecerdasan emosional atau emotional quotation (EQ) meliputi kemampuan mengungkapkan perasaan, kesadaran, serta pemahaman tentang emosi dan kemampuan untuk mengatur dan mengendalikannya.

Kecerdasan tersebut mulai tren pada akhir abad ke-20. Kecerdasan ini berada pada otak belakang manusia. Kecerdasan itu memang tidak mempunyai ukuran pasti seperti IQ, namun anda bisa merasakan kualitas keberadaannya dalam diri anda. Oleh karena itu, EQ lebih tepat diukur dengan feeling.
Ada lima unsur yang dapat membangun kecerdasan emosi
1.      Memahami emosi-emosi pada diri sendiri
2.      Mampu mengelola –emosi-emosi pada diri sendiri
3.      Memotivasi pada diri sendiri
4.      Bisa memahami emosi-emosi pada diri-sendiri
5.      Dapat membina hubungan sosial yang baik

Kecerdasan Intelektual (IQ)


Kecerdasan Intelektual (IQ)
Kecerdasan intelektual ialah kemampuan seseorang unntuk mengolah dan berfikir kognitif. Kecerdasan ini merupakan sebuah kecerdasan yang memberikan kemampuan untuk berhitung, berabalogi, berimajinasi, serta memiliki daya kreasi dan inovasi. Atau yang lebih tepatnya yang diungkapkan oleh para pakar psikologi dengan istilah “What I Think”
Kecerdasan tersebut terletak di otak bagian cortex (kulit otak). Kecerdasan ini ditemukan sekitar tahun 1912 oleh Wiliam Stern. IQ adalah kemampuan yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan mental. Unsur-unsur yang terdapat dalam IQ antara lain kecerdasan numeris, pemahaman verbal, kecepatan perseptual, penalaran induktif, penalaran induktif, visualisasi ruang, dan ingatan
Menurut David Wechsler, staff IQ—EQ intelegensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkunganya secara efektif. Kecerdasan intelektual adalah kemampuan intelektual, analisis, logika, dan rasio. Kecerdasan ini merupakan kecerdasan dalam menerima, menyimpan, dan mengolah informasi menjadi fakta.

Meningkatkan Kecerdasan


 Meningkatkan Kecerdasan Kecerdasan istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, sperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berfikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar.
Kecerdasan berkaitan erat dengan kemampuan kognitif yang dimiliki oleh seseorang. Kecerdasan dapat diukur dengan menggunakan alat psikometri yang biasa disebut tes IQ. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa IQ merupakan usia mental yang dimiliki oleh seseorang berdasarkan perbandingan usia kronologis.
Dalam beberapa kasus, kecerdasan bisa berupa kreativitas, kepribadian, watak, pengetahuan, maupun kebijakan. Namun, beberapa psikologi tidak memasukan hal-hal tersebutke dalam kerangka definisi kecerdasan. 
Stenberg dan Slater mendefinisikan bahwa kecerdasan ialah tindakan ataupun pemikiran yang bertujuan dan adaptif. Dan jika dispesifikasikan , kecerdasan manusia meliputi pemahaman dan kemampuan verbal, kemampuan dalam angka dan hitung, kemampuan visual, daya ingat, penalaran, serta kecepatan perseptual.
Dalam praktek yang lebih luas, sebuah sumber menyebutkan bahwa kecerdasan secara umum dipahami pada dua tingkatan. Pertama. Kecerdasan sebagai suatu kemampuan dalam memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran. Kedua. Kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi, sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem solvved). Dengan demikian pengetahuan pun semakin bertambah.
Sejauh ini kecerdasan manusia tidak tumbuh begitu saja, tetapi memiliki berbagai hal yang mempengaruhinya. Dan, diantara faktor yang mempengarauhi kecerdasan tersebut ialah faktor biologis, lingkungan, budaya, bahasa, dan etika.
Meskipun demikian demikin faktor yang mempengaruhi kecerdasan tidak hanya meliputi beberapa hal tersebut itu semua hanya sebuah teori yang telah menjadi rahasia umum dan klasik sehingga sudah tertinggal ribuan mil dan ketinggalan zaman. 
Ada perlu mengetahui di tengah masyarakat kita yang pada umumnya hanya menggunakan dan melatih otak kiri yang memicu terjadinya ketidak seimbangan fungsi kedua belahan otak, ada sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa selain beberapa faktor tersebut, kecerdasan seorang anak dapat dilatih dan diajarkan dengan cara melakukan aktivitas pada otak kanan.
Dalam kontek ini anda tidak hanya dianjurkan untuk melatih dan menggunakan ootak kanan semata, namun anda juga dituntut untuk mengoptimalkan kerja keduanya sehingga terjadi keseimbangan. Seseorang yang memanfaatkan kedua belahan otak secara seimbang, maka proses belajarnya pun akan terasa sangat mudah. Sebab, ia mempunyai pilihan untuk menggunakan bagian otak yang diperlukan dalam setiap pekerjaan yang sedang dihadapinya.
Seseorang yang hanya memfungsikan otak kirinya, dan ia tidak melakukan upaya tertentu guna memasukan beberapa aktifitas otak kanan dalam kehidupannya, maka akan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan, yang berakibat munculnya stres dan kualitas kesehatan mental dan fisik yang memburuk.
Pada hakekatnya anda dapat menggunakan beberapa strategi untuk menyimbangkan fungsi belahan otak kiri dan kanan. Menyeimbangkan disini tentu saja berarti membuat kedua belahan otak tersebut berfungsi optimal ketika anda melakukan segala sesuatu.

Rabu, 25 Januari 2012

Masalah Moralitas



Masalah Moralitas
Moralitas siswa yang tergolong rendah, akrena mengalami degradasi dalam pergaulan bebas di kalangan remaja, merupakan realitas masalah sosial yang sekarang terjadi dalam dunia pendidikan. Pendidikan yang diberikan oleh guru , cenderung bersifat transfer ilmu, dari pada bimbingan moral kearah akhlaq. Termasuk gurur agama dibebarapa sekolah tingkat SMA sederajat, lebih banyak berfikir ringan, mengajarkan ilmu agama, memberi tugas mencatat meteri pelajaran atau menghafal ayat-ayat pendek dari Al-qur’an ketimbang mendampingi kegiatan siswa, memberikan support dalam studi, mendengarkan keluhan atau curahan hati, memberikan pelayanan konsultasi berkaitan dengan
Maftuh Basuni, Menteri Agama RI (Tempo, 24 November 2004) menyatakan bahwa pendidikan agama yang berlangsung saat ini cenderung mengedepankan aspek kognisi (pemikiran) dari pada aspek asfeksi (perasaan) dan psikomotorik (prilaku/tindakan). Hasil studi Badan Litbang Agama dan diklat Keagamaan, juag menegaskan bahwa merosotnya moral dan akhlaq remaja peserta didik disebabkan oleh kurikulum Pendidikan Agama yang terlalu padat materinya, dan materi tersebut lebih mengedepankan aspek pemikiran ketimbang membangun kesadaran hidup beragama secara utuh. Metodologi Pendidikan Agama kurang mendorong penghayatan terhadap nilai-nilai agama, kurang mampu membangun kesadaran hidup beragama serta menciptakan siswa bermoral

Selasa, 24 Januari 2012

HAK AZAZI MANUSIA (HAM) DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI PENDIDIKAN


 HAK AZAZI MANUSIA (HAM) DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI PENDIDIKANHak azazi adalah hak dasar, fitrah yang diberikan Allah kepada setiap manusia, sesuai potensi akal dan hati yang dimilikinya. Konsep hak azazi, sesungguhnya terlahir dari ajaran islam sejak 1428 tahun yang lalu, sebelum lahirnya naskah PBB. Sesuai dengan potensi akal dan hati yang Allah berikan kepada setiap manusia sejak itulah Allah memberikan kebebasan sebagai hak-hak dasar kepada setiap insan. Dengan akalnya manusia bebas berfikir, bebas memilih, bebas berpendapat dengan hatinya manusia bebas berkeinginan, bebas memenuhi kebutuhan. Tetapi manusia yang bebas itu sebenarnya juga dibatasi oleh hak bebas orang lain yang harus dihormati hak azazinya.

Menghormati Hak Azazi Manusia (Konsep Ukhuwah Islamiyah)


Menghormati Hak Azazi Manusia (Konsep Ukhuwah Islamiyah) 
Setiap orang sesuai naluti dan hak azazinya, ingin hidup, ingin kerja mencari nafkah, ingin bercinta dan berkeluarga sesuai pilihan hati nalurinya, ingin mendapatkan ketenangan kemanan dirinya, ingin dihargai eksistensinya, ingin bebas beragamasesuai keyakinannya, berpendapat, berorganisasi, berkreasi dan bersosialisasi. Hak azazi adalah hak dasar pemberian Allah setiap manusia, sebab itu disebut hak azazi manusia.
Dalam al-Qur’an surat al-Imran (3:14) Allah swt berfirman “Telah diberi fitrah hiasan dan keindahan) bagi manusia cenderung tertarik menyukai (mencintai atau mempunyai keinginan) laki-laki mennyenangi wanita (dan sebaliknya)menginginkan anak keturunan, menginginkan harta kekayaan berupa perhiasan emas, perak, kuda pilihan (jenis kendaraan) binatang ternak, dan sawah ladang (untuk bercocok tanam). Semua itu merupakan wujud kesenangan duniawi, dan hakikatnya kepada Allah tempat kembali yang terbaik, (QS, 3:14)