Rabu, 01 Februari 2012

Teori Kebenaran James

Teori Kebenaran James

James menggunakan meliorismenya untuk menilai kebenaran rasionalisme dan empirisme, james menerima tough minded karena ada yang sesuai dengan pragmatismenya, yaitu empirisme. Ia juga menerima tender minded karena watak pragmatisme  menerima kehadiran agama. Disisni mudah sekali melihat kelemahan James, ia telah dipengaruhi oleh postulatnya bahwa agama perlu bagi manusia, karena agama membuat orang lebih baik. Jadi ada kekurangan jujuran dalam filsafat James. Mengapa kurang jujur karena ia subyektif.

Kebenaran itu ada bermacam-macam. Ada kebenaran yang dapat diuji secara empiris, ada kebenaran yang dapat diuji secara logis (akliah), bahkan ada kebenaran yang dapat diuji dengan kekuatan rasa (hati, dlamir, intuisi, moral, iaman). Memehami james disini semakin sulit karena dengan pragmatisme juga ia menyatakan bahwa agama perlu bagi manusia, padahal dalam agama banyak kebenaran yang tidak dapat diuji dalam pengalaman fisik.

Sabtu, 28 Januari 2012

Memahami Orang Lain

Memahami Orang Lain

 Menyadari dan menghargai perasaan-perasaan orang lain adalah hal terpenting dalam kecerdasan emosi. Hal ini bisa disebut dengan empati. Empati juga berarti melihat dunia dari mata orang lain. Dengan demikian, anda juga dapat membaca dan memahami emosi-emosi pada orang lain.
 
Memahami perasaan orang lain tidak harus mendikte tindakan anda. Menjadi pendengar yang baik-baik berarti harus setuju dengan apapun yang anda dengar. Keuntungan dari memahami orang lain adalah anda mempunyai lebih banyak pilihan tentang cara bersikap, serta memiliki peluang lebih baik untuk berkomunikasi dan menjalin hubungan baik dengan orang lain.

Memotivasi Diri


Memotivasi Diri
            Seseorang yang terampil memotivasi diri cenderung sangat produktif dan efektif dalam hal apapun yang ia hadapi. Ada cara banyak untuk memotivasi diri sendiri, yakni banyak membaca buku atau artikel-artikel positif Self talk, tetap fokus pada impian-impian, evaluasi diri, dan lain segalanya.

Mengelola Suasana Hati

Mengelola Suasana Hati
Mengelola suasana hati merupakan kemampuan emosional yang meliputi kecakapan untuk tetap tenang dalam suasana apapun, menghilangkan yang timbul, serta mengatasi kesedihan ataupun berdamai dengan segala sesuatu yang menjengkelkan. Seseorang yang cerdas secara emosi tidak berada di bawah kekuasaan emosi. Ia cepat kembali bersemangat dalam berbagai situasi yang menghadangnya, dan ia tau cara menenangkan diri.
Mengelola suasana hati bukan berarti menekan perasaan. Salah satu ekspresi emosi yang bisa timbul pada setiap orang adalah marah. Menurut Aristoteles marah itu sangatlah mudah. Tetapi marah pada orang yang tepat, tingkat yang tepat, serta pada waktu tepat, tujuan, dan cara yang tepat, hanya bisa dilakukan oleh orang yang cerdas secara emosi.
Semua itu merupakan kemampuan untuk memahami dan mengelola emosi-emosi pada diri sendiri yang harus dimiliki oeleh orang-orang yang dikatakan cerdas secara emosi.

Mengendalikan Dorongan Hati

Mengendalikan Dorongan Hati
Mengendalikan dorongan hati merupakan karakteristik emosi untuk menunda kesenangan sesaat demi mendapatkan hasil yang lebih baik. Hal ini sering disebut “mengendalikan  diri” seseorang yang cerdas kerena emosi tidak memakai prinsip harus memiliki segalanya saat itu juga. Mengendalikan dororngan hati merupakan salah satu seni bersabar dan menukar rasa sakit atau kesulitan saat ini dengan kesenangan yang jauh lebih besar dimasa yang akan datang. Kecerdasan emosi penuh dengan perhitungan.

Kamis, 26 Januari 2012

Mengatasi Stres


 Mengatasi Stres
Stres adalah tekanan yang timbul akibat beban hidup. Stres dapat dialami oleh siapa pun. Toleransi terhadap stres merupakan kemampuan untuk bertahan terhadap peristiwa-peristiwa buruk dan situasi penuh tekanan tanpa menjadi hancur. Dengan demikian anda mesti mengelola stres secara positif, lalu mengubahnya menjadi pengaruh yang baik bagi anda.
Seorang yang cerdas secara emosional mampu menghadapi kesulitan hidup dengan kepala tegak, tegar, dan tidak hanyut oleh emosi yang kuat. Ia cenderung menghadapi suatu hal, bukannya lari dan menghindar. Ia dapat mengelak dari pukulan sehingga tidak hancur dan tetap terkendali. Boleh jadi, sesekali ia terjatuh, namun tidak pernah terpuruk sehingga ia bisa kembali berdiri tegak.